Sahabat Sepertimu-Cerpenku
|
Sahabat Sepertimu
|
|
Oleh : Refiani Shalihah (Resha)
|
|
|
|
Cerita ini adalah sebuah
pertemuan antara kisah nyata dan khayalan-khayalanku. Dua hal yang sangat
berbeda… tapi, melalui cerita kecil ini mereka bisa bersama :) So, semoga
cerpen ini bisa menghibur dan menginspirasi kalian.
|
|
|
|
My Future
|
|
6/13/2013
|
|
|



SAHABAT SEPERTIMU
|
H
|
ujan terus turun hari ini. Mungkin hujan bisa mengerti
kesedihanku… kalau orang lain galau karena diputusin pacarnya. Aku malam ini
galau gara-gara nggak punya pulsa, piker Zahra. Padahal aku baru mau download
game di waptrick, omelnya dalam hati. Maklum lah… Zahra ini penggemar game
apalagi jika itu game petualangan atau yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan.
Zahra seharusnya mendownload Asassin Creed yang sudah lama dia incar. Akhirnya dia
naik ke balkon, menikmati sisa-sisa gerimis yang jatuh di telapak tangannya yang terbuka. Entah kenapa… Zahra suka hujan…
tapi, kalau hujan tidak turun Zahra akan melihat gemerlapnya bintang. Dan kalau
siang-siang nggak ada hujan dan pastinya nggak ada bintang, Zahra akan melihat
awan.
***
Bruk…
“Astaghfirullah… Aduuuh….”
“Ya ampun… Zahra… Zahra…”
kata Nana sambil geleng-geleng kepala dan membantu Zahra mengemasi
kertas-kertasnya yang berserakan. Arsyl juga ikut turun tangan.
“Makasih, ya, temen-temen.
Maaf, jadi ngerepotin. Boleh minta tolong nggak?” ucap Zahra dengan rasa nggak
enak.
“Udah tau. Ngambilin P3K
punyamu, kan? Udah hafal aku, Za, kamu itu kalau jalan nggak pernah hati-hati,
ya, udah tau di meja paling depan di deket pintu ada paku belom selesai
ngetoknya sama si Budi. Main lewat aja. Sukurin tuh tanganmu jadi keluar
darahnya.” Oceh Nana panjang lebar sambil mengambil kotak kecil bertuliskan P3K
di tas Zahra dan mulai mengobati lukanya.
“Loh, Za, ini kan
brosur-brosur rohis. Kok ada di kamu?” Tanya Arsyl .
“Iya. Soalnya Shella nggak
masuk hari ini.” Jawab Zahra.
“Kan Eva juga ada. Kok malah
kamu yang ngedarin ini?”
“Lupa ya, Ar, Eva ada
pertandingan volley.” Jawab Zahra sambil membenarkan letak jilbabnya.
“Yaudah. Kita bantuin, ya.”
Kata Eva.
Zahra hanya tersenyum sambil
mengangguk. Itulah orang yang selama ini dikaguminya. Arsyl,teman sekelasnya. Tapi
Zahra hanya memendamnya. Memendamnya bersama segala rasa ragu dan rasa malunya.
***
Sore ini langit begitu cerah,
Zahra duduk santai sambil mengangkat wajahnya menikmati hembusan angin dan
putihnya awan diantara langit yang mulai berwarna oranye dari balkon rumahnya.
Karena sore ini begitu indah ia memutuskan untuk mengambil kameranya di kamar,
lau naik lagi kebalkon dan mulai memotret awan yang berwarna oranye. Ditengah
kesibukannya tiba-tiba ponselnya berbunyi, sebuah sms masuk dari seseorang yang
sangat dinantikannya.
From: Arsyl J
Time: 17.25
Allo, Za. Mau Tanya nih… Brosur rohis
kemarin masih sisa nggak? Aku mau minta boleh?
Sambil senyam-senyum nggak
jelas Zahra mulai menekan keypad handphonenya.
To: Arsyl J
Masih, Syl. ( J ) Emang buat
apaan? N mau minta berap???
From: Arsyl J
Time: 17.27
Mau aku copy. Satu aja cukup, Za.
Ngomong-ngomong aku kan udah bilang JANGAN PANGGIL AKU PAKE KATA “SYL” itu
KAYAK PANGGILAN CEWEK TAUKK!!!!!!!!
Dan mereka terus saja sms-an
sampai jam 12 malam. Hingga akhirnya kelelahan.
***
Sayup-sayup terdengar suara
adzan subuh,itu adalah sebuah alarm sholat dan bangun untuk Zahra. Selesai
sholat Zahra kemudian melakukan aktivitas monoton-nya sehari-hari kemudian
berangkat menuju tempat faforitnya… Sekolah.
Tepat 11.30, bel sekolah
berbunyi. Beberapa guru yang disiplin mulai berjalan menuju kelas tujuan
masing-masing. Para siswapun mulai bergegas untuk duduk di bangkunya
masing-masing. Seorang guru yang terkenal dengan ke-killerannya mulai memasuki
dinginnya suasana 9A siang itu. Seorang guru yang berpostur tinggi dan langsing
yang tidak berjilbab mulai mengucapkan “Selamat siang”. Yang secara otomatis
dijawab serentak. Suasana angker mulai menyelimuti seisi kelas dan Restu yang
bertugas sebagai dirigen mulai maju dan memimpin do’a kemudian memimpin seisi
kelas untuk menyanyikan lagu nasional bersama-sama. Ya… tepat sekali… itu
adalah Ibu Maria… seorang guru berlabel PKn yang terkenal sangat disiplin dan
tegas.
Sementara itu…
“Kita nelat aja, Fa. Lima
menitan. Kita harus selesaikan pertempuran ini. Ini jamnya Pak Sunar, kan?”
kata Zahra berapi-api.
“Oke. Kita liat siapa yang
menang kali ini. Kalo nggak salah sih iya. Biasanya kan dia suka telat.” jawab
Ifa sambil memindahkan posisi ster-nya ke depan.
15 menit
kemudian…
“Yes nggak
ada guru.” Kata Zahra sambil tersenyum kegirangan dan menuju tempat duduknya di
barisan paling depan.
“Yes gimana
sih, Za? Kamu tu udah di alpha sama bu maria.”kata Tara sambil geleng-geleng
kepala.
“Loh
bukannya ini jamnya Pak Sunar?” tanya Zahra keheranan.
“Bukan.”
Jawab Nana.
Mulai detik
itu mereka terus berfikir, apa ya
reaksinya bu maria nanti? Tapi tidak terduga guru itu cuma diam saja bahkan
tidak membahas keterlambatan mereka.
***
Malam ini dinginnya udara
menusuk menembus jaket yang digunakan Zahra. Tapi, dinginnya malam itu tak
mampu menandingi indahnya bintang yang sedang sibuk memancarkan kilau
keemasannya. Seberti biasa, langit yang indah hari ini yang juga merupakan
momen langka akan di abadikan Zahra melalui kamera mungilnya. Dilihatnya
barisan bulan dan bintang yang tersusun rapi menenangkan hati. Dan Zahra mulai
mengingatnya. Mengingat lembaran-lembaran masa lalunya. Cerita-cerita lama
seorang remaja. Ya… kisah cinta. Mungkin terlalu basi untuk di bincangkan.
Tapi, hal itu sedang mengusik hatinya. Ia ingat ketika ia masih terlalu kecil
mengenal cinta.
Yah… sekarangpun ia masih
merasa usianya terlalu dini mengenal kata cinta. Apa sih cinta? Apasih gunanya
pacaran? Hal itu selalu dilontarkannya ketika teman-temannya menanyainya. Ia
selalu berusaha untuk selalu tampil sebagai sosok yang ceria. Dia bahkan selalu
berusaha membantu setiap masalah yang dihadapi teman-temannya. Tapi, mereka tak
pernah tau jika dia sendiri tak bisa mengatasi masalahnya.
Setiap dia mengingat Arsyl
dia akan berjalan menuju cermin lalu berkata pada dirinya sendiri. Apa sih, za? Kamu tu jelek. Semua orang juga
tahu. Coba deh kamu liat di cermin mukamu itu kayak apa! Coba kamu banyangin
Arsyl itu ada di samping kamu. Kalian kayak majikan sama babunya, Ref. Beda.
Sejuta persen beda. Kamu itu nggak usah sok berharap. Kamu tu nggak pantes sma
dia. Jadi temennya aja udah hebat.
Dan setelah dia pikirkan
sekarang. Selain karena dia tidak pantas dia juga berfikir. Terkadang cinta
malah merusak segalanya. Mulai saat itu dia belajar untuk membencinya. Tapi,
dia tak bisa karena dia benci kata “benci”. Lagi pula, buat apa pacaran?
Pacaran itu dilarang agama. Pacaran itu cuma menjurus ke hal-hal yang menambah
dosa. Pacaran itu menghambat proses belajarnya. Dai masih SMP terlalu aneh
mikirin pacaran sekarang.
Tak terasa, perlahan satu
demi satu airmatanya mulai berguguran, tapi dia menangis bukan karena Arsyl
yang takkan mungkin didapatkannya. Dia menangis karena merasa terlalu rapuh
dikalahkan oleh hal yang namanya cinta. Padahal di sendiri tidak tau apa sih
cinta sebenarnya. Pikirannya masih terlalu dangkal.
Tapi, sebuah pencerah mulai
memasuki hati kecil Zahra. Ia sadr ia telah melupakan prinsip hidupnya. Hidup
adalah sebuah kesempatan dari Tuhan untuk mensyukuri apa yang kita miliki,
bukan menghitung apa yang tidak kita miliki. Kini dia hanya ingin sahabat
sepertinya. Sahabat seperti Arsyl.
***
Zahra kembali masuk menuju
kamarnya kemudian mengambil sebuah binder dan sebuah ballpoint. Dan mulai
menuliskan kata demi kata…
Sahabat Sepertimu
Jika takdir mengizinkan…
Kelak aku ingin sahabat sepertimu
Jika takdir memintaku untuk memilih…
Aku akan memilih sahabat sepertimu
Ya…
Sahabat sepertimu…
Yang tahu makna hidup sebenarnya…
Yang tahu makna teman sebenarnya…
Yang tahu makna sahabat sebenarnya…
Dan apakah mungkin aku bisa jadi sahabatmu?
Bolehkah?
Bolehkah aku?
Bolehkah aku berhenti untuk berlari?
Berhenti berlari untuk mencoba…
Mencoba menggapaimu…
Mencoba mengejar seorang sahabat sepertimu…
Sahabat yang tak mungkin menjadi sahabatku…
Bisakah?
Bisakah engkau?
Bisakah kau berhenti untuk datang?
Datang menyapa khayalku…
Dengan senyum canda tawamu…
Dan takdir…
Apakah…
Apakah aku boleh?
Aku boleh memohon kepada Tuhan?
Tuhan…
Akankah?
Akankah Engkau mengizinkan aku?
Mengizinkan aku tuk meminta satu hal
padaMu?
Jadikan dia sahabatku Tuhan !!!
Bukan hanya di khayalku…
Bukan hanya di mimpiku…
Kumohon Tuhan
Bolehkah aku egois kali ini?
Aku ingin sahabat sepertinya..
Walaupun hanya sementara…
Sehari saja…
Atau satu jam saja…
Atau satu menit saja..
Lalu dia menuliskan sebuah
catatan kecil di sudut bawah kertas itu Tuhan
bolehkah aku egois sekali ini saja.aku tahu manusia itu tidak boleh selalu
ingin dimengerti. Tapi, aku lelah selalu mengerti. Aku juga ingin dimengerti.
Entah apakah kertas itu akan
ia serahkan kepada Arsyl atau tidah. Dia hanya mengetik ulang puisi itu di
laptopnya. Karena yang dia harapkan sekarang, hanyalah menginginkan Arsyl
menjadi sahabatnya…
Zahra
mengelap air mata yang tersisa di pipinya. Diputuskannya untuk tidur. Untuk
menyapa Arsyl lagi dalam khayalnya.
Komentar
Posting Komentar