Tugas Agama : Tugas Manusia sebagai Khalifah di muka bumi



Sang Khalifah





Oleh:
Refiani Shalihah
X-6 / 25

SMA Negeri 6 Yogyakarta
2013


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar dapat memenuhi dua tujuan, yaitu sebagai seorang hamba Allah SWT dan sebagai khalifah Allah di bumi. Khalifah merupakan orang yang diberi kepercayaan untuk mengelola dan merawat bumi serta mengatur kehidupan di muka bumi dengan mengacu kepada Al Qur’an. Al Qur’an dibutuhkan manusia agar segala perbuatannya senantiasa memiliki nilai ibadah kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi umat manusia.
Akan tetapi, sayangnya tidak sedikit manusia yang lupa akan fungsi dan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, sebagai manusia yang sudah ditugaskan Allah sebagai khalifah manusia yang ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi harus mampu membaca dan memahami isi kandungan Al Qur’an dan mampu membaca alam. Manusia sebagai khalifah harus mampu menguasai ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dalam aktivitasnya ketika manusia mengelola dan merawatbumi serta mengatur kehidupan agar sejahtera dan damai, manusia senantiasa menghadapi rintangandan godaan dari iblis atau syetan agar tersesat ke jalan yang tidak diridhoi Allah SWT.

B.      Rumusan Masalah
1.      Apakah fungsi khalifah di muka bumi?
2.      Bagaimana cara manusia melakukan tugasnya sebagi khalifah di muka bumi?


BAB II
ISI

A.    Dalil Tentang Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi
1.      Lafal dan Terjemahan Q.S. Al-Baqarah ayat 30

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfHZZGaJ99hyphenhyphenhhO_sSEu-ZcorlzgNxIIc3vqfrUna8kypgtVXLLfCW2qiRZIzZx-IA2eL6BM748bmyDKrbH9iiFuCHzJXneUM_43EvO_7Y1f1_3reAwP4HVc3skn5MQHfToV55ULY1UpA/s640/Baqarah.jpg

2.      Kandungan ayar Q.S. AL- Baqarah ayat 30

Berikut adalah beberapa kesimpulan Q.S. Al Baqarah ayat 30 :

a.     Adanya dialog antara Allah dan para malaikat perihal penciptaan manusia di bumi karena adanya perbedaan pandangan, serta malaikat telah mengetahui keberadaan manusia di bumi dan semuanya di bantah oleh Allah dengan perkataan "Sesungguhnya aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

b.     Kedudukan manusia dimuka bumi ini adalah sebagai khalifah Allah, yang diberi tugas untuk memelihara dan melestarikan alam, mengambil manfaat, serta mengelola kekayaan alamnya sehingga terwujud kedamaian dan kesejahteraan segenap manusia.
                                                                                               
c.     Malaikat menyaksikan bahwa tugas kekalifahan tersebut dilaksanakan oleh manusia, karena menurut malaikat dirinyalah yang lebih baik berhak memikul tugas tersebut dengan bukti bahwa mereka tidak mempunyai nafsu, selalu bertasbih dan memuja Allah.

d.     Kesangsian Malaikat akan diciptakannya manusia, memiliki alasan yang jelas, karena malaikat khawatir jika nantinya manusia tidak menaati Allah, tidak pandai bertasbih, justru akan menimbulkan kerusakan di muka bumi.

B.     Fungsi  Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi
Pada  dasarnya,  akhlak  yang  diajarkan   Al Qur’an   terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan  menuntut  adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan  mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta pembimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam  pandangan  akhlak Islam,  seseorang  tidak  dibenarkan mengambil  buah  sebelum  matang,  atau memetik bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini  berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua  proses yang sedang  terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga  ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, “Setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.” Binatang, tumbuhan,  dan benda-benda  tak  bernyawa  semuanya diciptakan  oleh Allah Swt. dan menjadi milik-Nya, serta semua memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan sang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Karena itu dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa :
Dan tidaklah binatang-binatang yang ada di bumi dan  burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan  umat-umat (juga)  seperti manusia...”  (QS. Al-An’am  [6] : 38)
Bahwa semuanya adalah milik Allah, mengantarkan manusia kepada kesadaran  bahwa  apapun  yang  berada  di  dalam  genggaman tangannya,   tidak lain   kecuali    amanat    yang    harus dipertanggungjawabkan. “Setiap jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin yang berhembus di udara,  dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan pertanggungjawabannya, manusia menyangkut pemeliharaan  dan pemanfaatannya”, demikian   kandungan  penjelasan  Nabi  Saw. tentang firman-Nya dalam Al Qur’an.
Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kemikmatan (yang  kamu  peroleh).” (At-Takatsur, [102]:  8)
Dengan demikian  manusia bukan  saja  dituntut  agar tidak  alpa  dan angkuh terhadap sumber daya yang dimilikinya, melainkan juga dituntut untuk memperhatikan apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Pemilik (Tuhan) menyangkut apa yang berada di sekitar manusia.
Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta yang berada di antara keduanya, kecuali dengan (tujuan) yang hak dan pada waktu yang ditentukan” (QS Al-Ahqaf [46]: 3).
Pernyataan Allah ini mengundang seluruh manusia untuk tidak hanya memikirkan  kepentingan  diri  sendiri,  kelompok, atau bangsa, dan jenisnya saja, melainkan juga harus  berpikir  dan bersikap  demi  kemaslahatan  semua pihak.  Ia  tidak  boleh bersikap  sebagai penakluk alam  atau  berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Memang,  istilah  penaklukan  alam tidak dikenal dalam ajaran Islam. Istilah itu muncul dari pandangan mitos Yunani  yang beranggapan bahwa  benda-benda  alam  merupakan dewa-dewa yang memusuhi  manusia sehingga harus ditaklukkan.
Yang menundukkan alam menurut Alquran adalah  Allah.  Manusia tidak sedikit pun mempunyai kemampuan kecuali berkat kemampuan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Mahasuci Allah yang menjadikan (binatang) ini mudah bagi kami, sedangkan kami sendiri tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya  tunduk  kepada  Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat. Aquran menekankan agar umat Islam meneladani Nabi Muhammad Saw. yang membawa rahmat untuk seluruh alam (segala sesuatu). Untuk menyebarkan rahmat itu, Nabi Muhammad Saw. bahkan memberi nama semua yang menjadi milik pribadinya, sekalipun benda-benda itu tak bernyawa. “Nama” memberikan kesan adanya kepribadian, sedangkan kesan itu mengantarkan kepada kesadaran untuk bersahabat dengan pemilik nama.
Ini berarti bahwa manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Namun pada saat yang sama, manusia tidak  boleh  tunduk  dan merendahkan diri kepada segala sesuatu yang telah direndahkan Allah untuknya, berapa pun harga benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak  oleh  benda-benda  itu. Ia tidak boleh diperbudak oleh benda-benda sehingga  mengorbankan kepentingannya sendiri. Manusia dalam hal ini dituntut untuk selalu mengingat-ingat, bahwa ia boleh meraih apapun  asalkan yang diraihnya serta cara meraihnya tidak mengorbankan kepentingannya di akhirat kelak.

C.     Cara Manusia Melakukan Tugasnya Sebagai Khalifah
Cara manusia melakukan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi antara lain:
1.      Senantiasa berbakti kepada Allah swt. dengan menaati perintah-Nya dan    menjauhi larangan-Nya.
2.      Selalu Menjunjung tinggi perdamaian dan persaudaraan.
3.      Selalu Menjaga dan melestarikan bumi dari kehidupan yang dapat merusak penghuninya.
4.      Selalu berkeinginan untuk meraih kehidupan yang lebih maju dengan cara yang baik dan benar.













BAB III

PENUTUP

Sebagai khalifah yang ditugaskan oleh Allah, manusia seharusnya menyadari dan melaksanakan tugas-tugasnya. Manusia harus menjaga alam yang sudah dianugerahkan Allah untuk menghidupi manusia.
 Karena nikmat-nikmatNya itulah manusia harus tetap bersyukur yaitu dengan cara menjaga, memelihara, melestarikan dan tidak menggunakan rizki dari-Nya secara semena-mena. Sehingga manusia dapat memenuhi tugasnya dengan baik.

BAB IV

DAFTAR PUSAKA

Margiono dkk.2007. Pendidikan Agama Islam Lentera Kehidupan 1.Jakarta: Yudhistira

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pancasila sebagai Paradigma Perkembangan IPTEK di Bidang Internet