Gadget-Sebuah Cerpen
Gadget
Benda berwarna putih berbalut silicon krem selebar telapak tangan
itu terus menari-nari di otak Fara sejak dua hari yang lalu. Desainnya yang
elegan dengan OS Android versi terbaru semakin membuatnya terobsesi untuk
memilikinya. Gadget jebolan Samsung yang dimiliki Dea, teman sekelasnya memaksa
Fara untuk menatap balok biru di tangannya. Balok biru kecil itu bergetar
beberapa saat, sebuah pesan singkat dari teman lamanya secara otomatis
menggerakkan jari-jari tangan kanan Fara dengan lincah di atas keypad QWERTY
balok biru itu, lalu ia menekan beberapa tobol navigasi di atasnya.
Diletakkannya balok biru itu di atas mejanya. Fara berjalan
pelan ke bangku deretan belakang. Fara berjalan menuju meja Dea. Ia bermaksud
untuk meminjamnya sebentar, merasakan sensasi ketika jari-jarinya menari lincah
di atas layar touchscreen yang tentu saja sangat kontras dengan handphonenya
yang masih menggunakan keypad. Sayang sekali impiannya kandas, jangankan
mencoba beberapa aplikasi canggih didalamnya meminjam saja tidak boleh. Fara
kembali ke bangkunya yang berada di deretan depan dengan lemas. Ia ingin sekali
menyentuhkan jarinya di layar sebuah gadget seharga 2,8 jutaan
itu yang jelas berbeda dengan balok birunya yang hanya berharga 575 ribu
rupiah.
Seusai shalat maghrib secara berjamaah bersama keluarganya, Fara
memberanikan diri untuk meminta kepada orang tuanya agar di belikan gadget putih
itu.
“Ma, Fara minta ganti handphone boleh?”
“Handphonemu baru satu tahun, kan?”
“Tapi hape Fara bukan android, Ma.”
“Emang hape impian kamu itu harganya berapa, sih? Kok mintanya
maksa banget?”
“2,8 juta.”
“Astaghfirullah. Buat beli hape aja perlu uang 2,8 juta?”
“Itu canggih, Ma. Gadget keluaran terbaru dan itu lagi trend.
Ayolah, Ma, Fara tahu Mama pasti bisa beliin buat Fara”
“Mama mampu beliin kamu gadget harganya segitu. Tapi, Mama nggak
mau manjain kamu, Fara. Itu terlalu berlebihan. Buat apa kamu punya barang
mewah kalau itu kurang bermanfaat.”
“Itu manfaatnya banyak, Ma. Aplikasi canggih di gadget itu bisa
menunjang pelajaran Fara, Mama.”
“Kamu punya laptop untuk menunjang pelajaranmu. 2,8 juta cuma
dapat satu gadget, kan? Itu cuma satu manfaat. Dan mama yakin pasti waktumu
hanya tersita buat kamu main game. Kalau kita ngeluarin uang yang jumlahnya jutaan,
harusnya manfaatnya sebanding.”
Fara melipat mukena putihnya. Tanpa melihat mamanya sedetikpun, Fara
berjalan cepat ke kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar. Sementara itu
mamanya masih melipat mukenanya dengan rapi sambil menggelengkan kepalanya.
Pelajaran bahasa inggris yang biasanya adalah pelajaran
favotitnya tak mampu lagi mengalihakan perhatiannya dari gadget putih itu. Fara
terus berfikir bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan gadget itu.
5 menit… 10 menit… 15 menit… 20 menit… 30 menit… 33 menit… akhirnya
Fara dapat menemukan bagaimana caranya mendapatkan gadget itu. Dia putuskan untuk mengikuti sebanyak
mungkin perlombaan yang sesuai dengan bakat yang dimilikinya.
Bel istirahat telah berbunyi, secepat
mungkin Fara berlari menuju kertas-kertas masa depannya, tak dihiraukannya
puluhan pasang mata yang memperhitaknnya dengan tatapan aneh disekitar koridor
sekolah. Dua kakinya akhirnya berhenti di depan sebuah papan yang merupakan tempelan kertas-kertas masa depannya. Fara mengeluarkan catatan
kecil dari balik sakunya kemudian membuka tutup ballpointnya. Tangan
mungilnya menulis beberapa persyaratan lomba dengan cepat. Fara mencatat
sebanyak-banyaknya berbagai jenis perlombaan yang bisa ia ikuti.
Setelah menulis beberapa perlombaan beserta
syaratnya di catatan kecilnya, ia tersenyum puas sambil melangkahkan kakinya
kembali menuju kelas. Bel masuk bagaikan iringan kemenangan untuk Fara, tapi
tanpa ia sadari kemenangan belum ditangannya. Justru tantangan untuk
memenangkan perlombaan itu yang harus ia taklukkan dan menjadikan dirinya
pemenang.
Fara bangun lebih awal dari biasanya, ia
mempersiapkan segala sesuatu untuk mengikuti lomba menulis puisi dan membaca puisi berhadiah jutaan rupiah itu. Ia yakin pasti banyak orang
yang mengikuti lomba itu.
Fara tahu ada orang lain yang jauh lebih baik darinya, tapi ia akan berusaha
sekuat tenaga demi gadget impiannya. Fara
membuka almari besar di kamarnya. Ia terlihat mencari sesuatu disana. Sebuah
kain kerudung berwarna krem yang sesuai dengan pakaian yang akan dikenakannya.
Beberapa saat kemudian ditemukannya kain itu. Fara berjalan
cepat menuju ruang yang merupakan tempat untuk menyeterika bajunya. Fara
bergerak cepat, tak ingin waktunya sia-sia. Hari ini adalah hari sejak sebulan
lalu ia menulis beberapa jenis lomba di buku catatannya. Sebuah lomba dengan
hadiah 2 juta rupiah untuk pemenang pertama.
Fara segera meraih tasnya, kemudian berlari menuju halaman
rumahnya. Samar-samar terlihat ibunya sudah menunggu untuk mengantar Fara ke
tempat tujuannya. Lomba yang diadakan sebuah majalah ternama itu.
Setelah 30 menit berlalu, akhirnya Fara menapakkan kakinya di halaman
luas gedung itu. Diciumnya tangan halus yang tak lain milik ibunya itu. Orang
yang mengajarkan Fara untuk berusaha agar mendapatkan apa yang diinginkannya
dengan keringatnya sendiri. Membuat segalanya lebih bermakna.
Tangan Fara bergetar ketika ia memegang lembaran-lembaran kertas
berwarna biru. Ia merasa seperti bermimpi berhasil mendapatkan juara pertama
dari lomba itu. Sementara itu, di sampingnya ibunya fokus menyetir. Ia hanya
perlu mendapatkan tiga ratus ribu rupiah lagi, ditabungannya masih tersisa uang
lima ratus ribu rupiah.
Lampu merah di perempatan menghentikan laju mobil Fara. Fara
memperhatikan ibunya dan mulai mengajaknya bicara.
“Ma?”
“Iya?”
“Emm… Fara boleh pakai uangnya buat beli gadget enggak?”
Ibunya menghela nafas sesaat dan menjawabnya dengan suara
lembutnya.
“Mama percaya kamu pasti bisa memanfaatkan uang dari keringatmu
sebaik mungkin. Itu uangmu. Gunakan saja jika menurutmu itu yang terbaik, Fara.”
Fara mengangguk pelan bersamaan dengan hijaunya lampu di perempatan
itu. Mobilnya melaju melewati kios-kios di pinggir jalan. Fara sangat menikmati
momen itu.
Karena ada rapat Fara akan dijemput 30 menit lebih lama dari
biasanya. Awalnya ia berencana menghabiskan waktunya untuk memainkan game yang baru saja didownload olehnya. Tapi semua hal itu
gagal, ekstrakurikuler yang rutin diikutinya libur hari ini.
Fara berjalan kaki kurang lebih 200 meter dari sekolahnya.
Menunggu angkutan yang biasanya lewat. Fara mencari sesuatu di saku roknya,
tidak sampai 30 detik dikeluarkannya untaian kabel yang kemudian diselipkan di
kedua telinganya.
Setelah menunggu 15 menit sebuah mobil angkutan berwarna hitam
dengan karat di beberapa bagian berhenti tepat di depannya, sesaat setelah
melaju beberapa kilometer seorang nenek berbaju krem dengan kain jarit yang
agak lusuh menaiki angkutan yang ditumpanginya. Nenek tua yang seumuran dengan eyangnya tampak kesulitan menaikkan
barang bawaannya, sebuah bakul besar dari bambu. Rupanya nenek tua itu adalah
seorang pedagang. Karena iba, Fara membantu nenek itu menaikkan barang
bawaannya ke atas mobil angkutan dan membantu nenek itu untuk menaiki angkutaan
itu. Nenek itu berterima kasih beberapa kali, Fara membalasnya dengan anggukan
dan senyuman. Entah kenapa, hati Fara merasa senang sekali, bantuan kecil yang
ia berikan ternyata berarti bagi nenek itu.
Fara sudah sampai di tempat tujuannya, diserahkannya selembar
uang lima ribu rupiah kepada sopir angkutan hitam yang ditumpanginya. Ternyata
nenek itu turun di tempat yang sama dengan Fara. Sekali lagi fara membantu
nenek itu menurunkan barang belanjaannya. Kemudian mereka duduk di
trotoar, sementara Fara menunggu
dijemput oleh ibunya. Nenek itu memulai percakapan.
“Terimakasih, ya, nduk.
Sudah mau membantu simbah.”
“Nggih. Tidak
apa-apa.”
“Namamu siapa, nduk?”
“Fara, mbah.”
“Siapa? Para?”
Fara hampir tertawa mendengarnya, ia mengerti kenapa nenek itu
salah mengucapkan namanya.
“Nggih. Simbah jualan apa?”
“Lopis, nduk.”
“Simbah sudah sepuh kok masih jualan lopis? Nggak
dirumah aja mbah istirahat.”
“Mau gimana lagi lha kebutuhan
nggak cukup kalau simbah nggak
jualan. Jualan juga kadang nggak cukup. Salah satu cucu simbah sekolahnya swasta, nduk,
mbayar mahal.”
“Sekarang kelas berapa, mbah?”
“Ada yang SMP kelas 2 dan SMA Swasta kelas 2. Padahal sebentar lagi simbah ikut anak simbah. Jadi juga ngurus biaya pindahan.”
“Putrane simbah kerja jadi apa?”
“Anakku satu-satunya itu bekerja sebagai kuli bangunan di Semarang,
3 hari lagi simbah dan cucu-cucu simbah ikut ke Semarang. Besok hari
terakhir simbah jualan di Jogja.
Mungkin disini beberapa hari untuk menyelesaikan mengurus surat pindah.”
Tin… tin… Dari kejauhan Fara melihat ibunya yang mesih
mengenakan pakaian kantor mengklaksonnya dari seberang jalan. Fara berpamitan
dengan nenek itu kemudian menyebrangi jalan. Tepat di seberang jalan Fara
melihat sebuah motor berwarna putih yang mengeluarkan asap dan bersuara keras
berhenti di trotoar tempat nenek itu duduk. Gadis yang mengenakan seragam SMA
sama seperti Fara itu masih mengenakan helmnya yang usang dan transparan tanpa
kaca itu sambil memiundahkan bakul neneknya di depan jok. Fara segera menaiki
sepeda motor ibunya yang mengantarkannya pulang.
Sudah satu jam ini Fara berusahaa untuk tidur, tapi semua itu
hasilnya nihil. Fara terus mengingat nenek itu, ingin sekali Fara membantu
nenek itu. Fara bingung bagaimana cara untuk membantu nenek itu.
Fara menaiki angkutan lagi. Untuk kali kedua, ia duduk lagi di
trotoar bersama nenek itu. Kali ini Fara yang memulai percakapan.
“Mbah, hari ini hari
terakhir jualan?”
“Iya, nduk.”
Suasana hening menyusup diantara percakapan mereka sesaat.
“Mbah, ini ada sedikit
uang nggak banyak sih, mbah”
“Tidak usah, nduk”
“Fara ikhlas kok, mbah.
Fara bener-bener pengen bantu simbah.”
Nenek itu menerimanya ragu-ragu.
“Terimakasih, ya, Nduk.
”
Tin… Tin… Tin… Tin… Dari seberang jalan ibunya sudah
menunggunya. Fara pamit sambil terus mengucakan nggih karena nenek itu tak henti-hentinya mengucap terimakasih.
Seperti biasa Fara shalat maghrib berjamaah bersama keluarganya
setelah ayahnya beranjak. Fara duduk mendekat ke depan ibunya.
“Ma, uangnya udah Fara pakai.”
“Bukannya uangnya masih kurang lima ratus ribu buat beli
gadget?”
“Fara… Pakai uang itu bukan untuk beli gadget, Ma.”
“Buat apa?”
“Emm… Satu juta rupiah dari uang Fara, Fara kasih ke nenek
penjual kemarin, Ma. Nenek itu kasian nggak bisa bayar uang untuk pindah
sekolah cucunya. Kemarin Fara juga liat cucunya nenek itu jemput neneknya cuma
pakai motor butut itu lho. Nggak papa, kan, Ma?”
Ibunya memeluknya sambil meneteskan air mata harunya.
“Iya, sayang, Mama bangga sekali sama kamu. Ternyata Allah
memberikan putri terbaik untuk Mama.”
“Ini semua karena Fara ingat kata-kata Mama. Mama pernah bilang,
Gunakan saja jika menurutmu itu yang terbaik, Fara.”
Fara mencari jaket abu-abunya, ia akan segera pergi menuju
sebuah tempat yang rutin dikunjunginya. Dinyalakannya mobilnya yang berwarna
hitam itu. Setelah beberapa kilometer, Fara mampir sebentar di sebuah pusat
perbelanjaan dan keluar dengan membawa empat kantong plastic besar. Fara
melanjutkan perjalannya.
45 menit kemudian…
“Kak Faraaa”
Suara itu… Risa… seorang gadis kecil diatas sebuah kursi roda menyambutnya
dengan riang spontan membuat Fara tersenyum. Dia menjalankan kursi rodanya yang
mengiringi langkah Fara menuju halaman depan. Beberapa anak lain mulai keluar
dan berdiri mengelilingi Fara.
“Kak Fara bawa apa? Kok banyak banget?” kata Dias sambil
membetulkan letak kruknya.
“Lusa kalian masuk sekolah lagi, kan? Kakak bawain buku dan alat
tulis buat kalian. Bukanya entar kalau udah di dalam ya.”
“Terima Kasih, Kak Fara” ucap mereka bersamaan.
“Iya, sama-sama.”
Kini Fara adalah seorang pengusaha suskses yang telah memiliki
24 cabang di berbagai kota besar di Indonesia, dan bersama beberapa temannya
Fara mendirikan sebuah Yayasan Sosial yang memiliki beberapa panti asuhan untuk
anak-anak difabel. 15 tahun yang lalu, seorang nenek telah mengajarkan kepada
Fara bahwa berbagi dapat menghadirkan sebuah kebahagiaan yang luar biasa.
-Tamat-
Komentar
Posting Komentar