SAMA - Sebuah Cerpen



Sama
Oleh : Ree
Sejak malam itu aku tak pernah lagi melihat wajahnya. Tak ada yang berubah, semua tetap sama. Rasa sakit yang menjalari dadaku tetap sama. Rasa rindu yang menjalari dadaku tetap sama. Rasa benci yang menjalari dadaku tetap sama. Dan… rasa bahagia ketika bertemu, ah tidak, koreksi. Rasa sayang yang menjalari dadaku tetap sama. Masihkah ia sama? Aku juga tidak tahu.
Sama… masih sama… mungkin… pikirku. Dia berjalan mendekat, membuka topi putihnya yang terlihat jelas dari kejauhan. Tetesan keringat yang mengalir di dahinya seakan terlihat bersinar kala terik siang ini menerpa wajahnya.
“Sudah lama rupanya kita tak berjumpa.” katanya sambil menjabat tanganku dan tersenyum kaku.
“Ya. Sudah lama kita tidak berjumpa.” jawabku.
“Hmm… kau tidak haus?” tanyanya masih dengan senyum kakunya.
“Sedikit” jawabku.
Jarinya menunjuk-nunjuk kearah sebuah toko minuman milkshake yang ada di sudut taman hiburan yang kami kunjungi saat ini. Masih dengan gaya yang canggung tentu saja.
“Bagaimana kabarmu? Dan… yang lainnya?” tanyanya sambil memainkan sedotan milkshakenya.
“Aku? Yah seperti ini, kau bisa lihat sendiri bukan.” aku memberi jeda sambil mengangkat sebelah alis mataku.
“Yang lain? Maksudmu ayah dan ibu? mereka baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Kau tahu.” lanjutku.
Kami hanya diam menunduk dan meminum milkshake kami.
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa.” dia memakai lagi topi putihnya, berjalan semakin menjauh.
Aku ingin menahannya pergi, ingin sekali. Tapi kenapa aku selalu gagal? Suaraku tak pernah keluar ketika ia mulai melangkahkan kakinya pergi. Bahkan untuk sekedar mengucapkan sampai jumpa
ooo
Aku mendengar isakan tangis itu lagi. Sungguh, hatiku perih ketika mendengarnya. Aku mendekat, kemudian menghapus air mata yang mengalir dipinya. Kedua tanganku memeluknya.
“Sudahlah, Ibu, jangan menangis lagi. Maafkan aku. Maaf.” kataku sambil mengeratkan pelukanku.
“Tidak kau tidak salah. Ini bukan salahmu.” jawab Ibu.
“Tidurlah kau pasti lelah.” lanjut Ibu.
Aku mengangguk pelan, lalu berjalan masuk ke kamarku. Lalu kurebahkan tubuhku, menarik selimut hingga sebatas dagu. Aku menangis dalam diam. Hingga tanpa kusadari aku sudah terlelap.

Aku mempercepat kayuhan sepedaku, tak kupedulikan cacian orang-orang yang hampir tertabrak olehku. Aku melihatnya lagi hari ini, dan aku tak ingin melepaskannya begitu saja. Sudah 3 bulan sejak pertemuan kami di taman hiburan waktu itu. Dia belum menghubungiku lagi.
“Maaf.” ucapku pada seorang pedagang yang hampir kutabrak.
Aku terus mengayuh sepedaku, tapi sayang aku sudah kehilangan dia. Aku tak lagi melihat punggungnya. Dia menghilang diantara orang-orang yang berlalu-lalang di depanku. Lagi-lagi aku kehilangan dia.
Aku mengayuh sepedaku pelan, menikmati angin yang membelai lembut kulit wajahku. Sambil sesekali melihat arah barat, memastikan matahari tak terbenam. bodoh bukan? Ya. sudah pasti tidak mungkin. Sama seperti aku mengharapkan kau tak lagi meninggalkanku. ya. tak mungkin. Aku tersenyum masam. Lalu aku berhenti mengayuh sepedaku. Ya benar-benar berhenti, untuk menatap matahari yang terbenam di ufuk barat. Mengingatkanku bahwa ada saat dimana kata “tidak ada yang tidak mungkin tidak berlaku untukku. Dia tetap pergi tak mungkin kembali saat ini.
Aku memutar kenop pintu rumahku. Sayup-sayup aku mendengar suara isakan dari ruang keluarga. Aku tahu Ibu pasti menangis lagi hari ini. Ibu duduk di dekat perapian membakar beberapa lembar kertas disana. Surat-surat itu, surat yang selama ini ditulis oleh Ibu. Surat yang tak pernah dikirimkan. Aku menyentuh pundak Ibu, lalu aku memeluknya. Ibu masih terisak, aku mulai merasakan basah di pundakku. aku tak kuat menahannya lagi, air mata yang selama 8 tahun ini selalu kutahan agar tidak menetes akhirnya menetes. Hari ini adalah batasku, aku menangis bersama Ibu. Udara hangat perapian tak mampu menyaingi dingingnnya jiwa kami. Isakan Ibu yang semakin keras membuat ku semakin yakin. Aku harus menemukannya. Ya. Harus.

Hari ini aku mengayuh sepedaku lagi, memacunya ke daerah Malioboro. Dia mengajakku bertemu lagi hari ini. Sudah 8 bulan sejak terakhir aku melihatnya. Apakah dia tetap sama? aku juga tidak tahu. tapi aku tak akan melepasnya lagi hari ini.
Dia sudah menungguku di depan Benteng Vrederburg, aku menatapnya tajam. Sepertinya dia menyadarinya.  Aku duduk di sampingnya. Selalu saja, dia tersenyum kaku.
“Sudah lama rupanya kita tak berjumpa.” katanya sambil menjabat tanganku dan tersenyum kaku.
“Ya. Sudah lama kita tidak berjumpa.” jawabku.
Dia selalu menggunakan format yang sama, mengatakan lama tidak berjumpa. aku yakin setelah ini dia akan menanyakan kabar. Ah tidak, dia pasti akan mencari minuman.
“Minumlah. Aku tahu pasti kau masih lelah. kenapa kau tidak pernah membawa sepeda motor atau mobil? Kau selalu saja sama. Tak pernah berubah.” katanya sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik untukku. Hmm… menarik, sepertinya format hari ini akan berbeda.
“Mmm… Terimakasih. Aku suka mengayuh sepedaku. Melaju pelan diantara kendaraan yang dipacu dengan kecepatan tinggi.”
“Ya. bagaimana kabarmu? Dan… yang lain?” Aku mengangkat alis mataku. Ternyata kembali ke format lama.
Aku mendengus kesal. Aku tak akan menggunakan format lama hari ini. aku akan mengatakan semuanya. Ya. Segalanya.
“Tidak bisakah kau kembali?” tanyaku dengan ekspresi datar.
“Ak… Aku… Aku… belum bisa kembali untuk saat ini.” jawabnya dengan ekspresi yang sulit kubaca.
“Ini bahkan sudah hampir 8 tahun. Kau sudah membuktikannya! Apa lagi yang kurang? kau sudah sukses sekarang. Ingat janjimu! kau akan kembali jika sudah menggapai mimpimu. Hampir 8 tahun! Hampir 8 tahun hidupku kosong. Kau tahu? Apa kau tahu? Kau pikir aku hanya butuh uang? Mau berapa lama lagi harus menunggumu? Sampai aku terbaring di dalam tanah? Diantara pusara Ayah dan Kakak? Ayah yang selalu baik-baik saja. Dan Ibu yang mungkin akan selalu baik-baik saja.” aku berteriak melepaskan semuanya. Air mataku terus menetes aku tak peduli beberapa orang memperhatikan kami. Aku tak peduli!
Aku merasakan rengkuhan tangannya. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Bahu yang sudah hampir 8 tahun ini tak lagi menguatkanku.
“Apa yang terjadi dengan Ibu? Maafkan aku. Aku memang terlalu pengecut untuk kembali. Kumohon maafkan aku.” pelukannya semakin erat. Aku mendengarnya terisak.
“Ibu. Dia membutuhkanmu. Kembalilah… Kembalilah…” jawabku pelan.
“Ya. Aku akan kembali.”

Aku memutar kenop pintu rumahku. Aku mendengar isakan Ibu lagi hari ini. Aku masuk dengan senyum yang terukir di wajahku.
“Mas Fadil, masuklah.” kataku.
Mas Fadil megikutiku dibelakang. Begitu melihat Ibu yang terisak dia segera berlari. Mas Fadil mendekap Ibu. Air mataku menetes. Ibu aku sudah membawanya kembali.
“Ibu, Maafkan Fadil, Bu. Maafkan Fadil, Bu. Maaf.” Mas Fadil menangis sambil memeluk Ibu yang terisak pula. Tangan Ibu menyentuh wajah Mas Fadil. Ibu mengangguk.
“Kamu sudah dewasa, nak. Ibu sangat merindukanmu. Berapa usiamu sekarang? 26 tahun ya?” kata Ibu.
Perlahan tangan Ibu yang menyentuh wajah Mas Fadil mengendur. Lalu tak sadarkan diri.
Kami duduk di sebuah bangku panjang di depan ruang ICU RSUP dr. Sardjito. Akhirnya aku menceritakan semuanya tentang kondisi Ibu yang sejak 7 bulan lalu divonis mengidap penyakit jantung. Ibu yang selalu menulis surat yang berisi rasa rindu dan sayangnya untuk putra sulungnya. Ibu yang hampir setiap hari menangisi kepergiannya. Aku mengatakan semuanya. Betapa kami sangat merindukan Mas Fadil. Betapa adik perempuan kecilnya ini sangat merindukannya. Betapa kami membutuhkannya yang sejak kematian Ayah belum juga kembali. Dia yang selalu mengatakan malu untuk pulang karena kesalahan masa lalunya. Mas Fadil memang masih bertangggung jawab dengan mengirimi sejumlah uang untuk kebutuhan hidup kami tiap bulan. Tapi yang kami butuhkan adalah sosoknya, sosok seorang kakak dan putra yang sangat dirindukan keluarganya. Akhirnya setelah hampir 8 tahun kami menunggu Mas Fadil. Dia kembali. Dan kami akan berjuang demi kesembuhan Ibu.
-          T O  B E  C O N T I N U E  -

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pancasila sebagai Paradigma Perkembangan IPTEK di Bidang Internet

Tugas Agama : Tugas Manusia sebagai Khalifah di muka bumi